Makna dan Hakikat Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) Yang Sesungguhnya

Makna dan Hakikat Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) – Sungguh, perjalanan waktu yang sangatlah cepat. Ramadhan yang baru saja datang kepada kita, kini berada di ambang kepergiannya. Waktu yang beberapa saat ini telah kita lalui dengan segala keindahannya, kemuliaannya, keagungannya, kini akan meninggalkan kita semua. Begitulah aturan Allah Subhanahu wa Taala, bahwa segala sesuatu ada permulaan dan akhirnya. Manusia yang paling beruntung adalah yang paling bisa memanfaatkan waktunya setiap saat, baik saat Ramadhan, maupun di luar ramadhan.

Ramadhan yang akan meninggalkan kita akanlah menjadi satu antara dua kemungkinan. Bisa jadi, Ramadhan menjadi Hujjah yang membantu kita untuk lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa Taala dan membantu kita mempermudah di akhirat nanti, atau wal iyadzu billah, menjadi Hujjah yang menjerumuskan kita kepada kemurkaan Allah Subhanahu wa Taala. Insya Allah kita semua mendapat bagian yang pertama, amin.

Tentang kapan waktu yang tepat untuk berlebaran, maka hal tersebut telah di ajarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, didalam hadits yang diriwayatkan olem Al-Imam Al-Bukhori dan Al-Imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam: “berpuasalah kalian setelah terlihatnya hilal, dan berbukalah (berlebaran) setelah terlihatnya hilal”. Inilah pedoman kita semua kaum Muslimin di manapun kita berada. Adapun ketentuan tentang masuknya 1 Syawwal, sebagaimana tertuang pula pada edisi pertama di bulan yang mulia ini.

KEMENANGAN YANG TERGADAI?

Kesempurnaan puasa Ramadhan yang kita laksanakan, seperti diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Sayyiduna Jarir bin Abdullah, begitu juga dari Sayyiduna Anas, yang meriwayatkan bahwa pahala berpuasa seseorang di bulan ramadhan tergantung antara langit dan bumi, sampai ditunaikannya zakat fitrah dari pribadi tersebut.
Dari riwayat di atas, jelaslah bahwa puasa kita sangat tergantung dengan proses pengeluaran zakat fitrah yang tidak tercemarkan dengan hal-hal yang membatalkan zakat fitrah tersebut. Zakat yang diakui keabsahannya, sebagaimana telah dibahas pada bulletin edisi ke-3 di bulan yang mulia ini, adalah yang berupa bahan makanan pokok, dalam hal ini beras sebanyak 3.5 liter.

LEBARAN

Dengan terbenamnya matahari di hari terakhir di bulan Ramadhan, seiring dengan gema takbir, mengagungkan Allah Subhanahu wa Taala, inilah saat bergembira bagi semua ummat Muslimin, yang berhasil dalam ibadah Ramadhannya.

Berbicara tentang keberhasilan di bulan Ramadhan, buah dari puasa kita, Allah Subhanahu wa Taala telah menyatakan dan menginformasikan kepada kita semua tentang hal tersebut, sehingga Allah berfiman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa, sebagai mana telah di wajibkan atas orang-orang yang terdahulu, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.”

Allah Subhanahu wa Taala, menjelaskan dalam Firmannya tersebut di atas, bahwa buah dari puasa adalah ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Maka, apabila seseorang ingin mengetahui status keberhasilan dia di dalam ibadah puasanya, cukuplah ia menilainya dari ketaqwaannya kepada Allah. Bagaimana peningkatan ketaqwaan kita, kita bandingkan antara sebelum kita masuk dalam bulan Ramadhan dan ketika kita berpisah dari bulan tersebut.

Di antara buah puasa adalah pendidikan bagi tiap mukmin untuk menaiki tangga kemuliaan derajat ihsan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Sebagaimana telah kita maklumi, bahwa Ihsan merupakan salah satu dari rukun agama ini, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Sayyiduna Abdullah bin Umar bin Khattab Radiyallahu Anhua, tatkala Sayyiduna Jibril datang dengan rupa seorang laki-laki dan langsung duduk di hadapan An Nabi, seraya menanyakan tentang Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga hal ini selanjutnya dikenal dengan sebutan Rukun Agama.

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, menjawab Iman dan Islam dengan Rukun Iman dan Rukun Islam, adapun Ihsan, maka beliau menjawab, “agar engkau mengibadati Allah seolah-olah engkau melihatnya, namun jika tidak bisa untuk mengerjakan hal tersebut, yakinilah bahwa Allah melihatmu”.

Setiap mukmin, disaat berpuasa, siapa diantara mereka yang berani untuk memakan makanan, atau minum-minuman, yang mungkin ada di hadapan mereka. Ini bersumber dari keyakinan kita bahwa Allah selalu hadir bersama kita. Inilah bukti peningkatan dari keihsanan kita kepada Allah Taala.

HAKIKAT BERLEBARAN

Disebutkan dari beberapa riwayat tentang Al Imam Ali bin Abi Thalib,bahwa beberapa hari Beliau Radhiyallahu Anhu terlihat memakai pakaian yang indah, sehingga para sahabat yang lain banyak yang menanyakan hal tersebut kepadanya, yang seraya dijawabnya, “Hari ini adalah hari raya bagiku, kemarin juga demikian, dan setiap hari ku tak bermaksiat pada Allah maka hari tersebut adalah hari raya untukku.”

Diriwayatkan daei para Ulama, sebagaimana tertera dalam kitab Al Imam Al Baijuri dan yang lainnya, disebutkan tentang hakikat dari lebaran tersebut. Mereka mengatakan, “Hari Raya bukanlah untuk mereka yang berpakaian yang bagus, tetapi lebaran yang diinginkan adalah saat pengampuna dosa dari Allah Taala.”

Di antara para ulama, ada juga yang mengatakan, “bukanlah hari raya itu untuk mereka yang mempercantik diri dalam berpakaian dan berkendaraan, tetapi hari raya yang diharapkan adalah ketika seseorang diampuni oleh Allah Subhanahu wa Taala.”

HARUS LULUS

Inilah hal yang utama yang patut diperhatikan oleh setiap muslim, yang memiliki keimanan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Apa yang ia dapat dari pendidikan Ramadhan yang dapat diaplikasikan dalam kesehariannya pasca Ramadhan. Jadilah mukmin yang memiliki inovasi yang kuat untuk masa depan. Dan jangan sampai kita menjadi manusia-manusia yang tidak lulus pada bulan keberkahan ini, sehingga menjadi bagian dari orang-orang yang merugi. Sebagaimana sangatlah banyak riwayat yang mengetengahkan kerugian yang didapat bagi seorang yang tidak lulus dan berhasil dalam bulan yang indah ini,

Diantara hadits yang meriwayatkan ktentang kerugian bagi yang mendapatkan Ramadan namuntidak lulus pada bulan tersebut, adalah yang diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hibban dalam kitab shahihnya, sebagai berikut: (pada hari raya) Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam menaiki mimbarnya, di tangga pertama Beliau mengatakan Amin, di tangga kedua juga demikian, di tangga yang ketiga juga demikian. Setelah itu beliau bersabda, “telah datang padaku malaikat Jibril seraya mengatakan Wahai Muhammad, barang siapa melalui bulan Ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan Allah, semoga tambah dijauhkan dari Allah. Lalu Jibril pun berkata, Aminkan ya Rasulullah, maka NAbipun mengamininya.

Pada hadits yang lain, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam mengatakan,”Celakalah bagi mereka yang mengalami bulan Ramadhan namun tidak dapat pengampunan Allah, jika tidak mendapatkannya di bulan tersebut, kapan akan mendapati ampunan Allah.”

AMALAN HARI RAYA IDUL FITRI

Diantara amalan yang dapat dikerjakan seorang hamba di malam takbiran, di hari raya dan seputar bulan Syawwal adalah sebagai berikut:

1. menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak takbir dan dengan amalan lainnya
sebagaimana yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad bagi mereka yang menghidupkan lima malam dalam setahun (dengan ibadah), maka Allah akan menghidupkan hatinya di saat manusia dilanda dengan kematian hati
2. memakan makanan, walau sedikit, setelah masuk waktu subuh, sebagai pertanda berbuka di hari raya tersebut.
3. mandi sunnah di hari raya, yang mana sudah dapat dilalkukan semenjak tengah malam pada malam hari raya.
4. Shalat Ied
Dikerjakan secara berjamaah, dengan khutbah setelah shalat seperti khutbah jumat dalam hal syarat dan rukunnya.
5. Bersilaturahmi, yang insya Allah dengan silaturahmi tersebut dapat memparpanjang usia kita
6. Puasa 6 hari di bulan Syawwal, sebagaimana diriwayatkan, “barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ditambah dengan 6 hari di bulan Syawwal, seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh.”
Para Ulama mengatakan, bahwa yang paling afdhal adalah dengan menyambungkan puasa tersebut mulai dari hari kedua bulan Syawwal sampaihari ke tujuh, namun tidak menutup kemungkinan bagi yang ingin mengerjakannya secara acak di bulan Syawwal.

sumber : alhabibahmadnoveljindan.org

Tinggalkan komentar