Kisah Sahabat Nabi Zaid bin Tsabit Lengkap

Kisah Sahabat Nabi Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari – Dilahirkan pada tahun 10 sebelum hijrah, atau 10 tahun lebih muda dari Ali bin Abi Thalib, Zaid dan keluarganya berasal dari kabilah Bani An-Najjar. Keluarganya termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas.

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru. Dia adalah seorang Anshar yang kelak akan menjadi seorang ulama terkenal, dan pengumpul al-Qur’an. Beliau telah meenjadi yatim pada usia enam tahun.

Pada umur 11 tahun, ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau masuk Islam bersama dengan keluarganya. Dua tahun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, terjadi Perang Badar. Di usia 13 tahun, Zaid bin Tsabit datang menemui Rasulullah Muhammad saw. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya.

Tanpa rasa takut dan penuh percaya diri, ia memohon kepada Rasulullah agar diijinkan ikut berperang.

“Saya bersedia syahid untuk Anda wahai Rasulullah. Ijinkan saya pergi berjihad bersama Anda untuk memerangi musuh-musuh Allah, di bawah panji-panji Anda,” ucapnya dengan tegas.

Rasulullah tertegun mendengar permintaan itu. Dengan penuh rasa haru, gembira dan takjub, ia menepuk-nepuk bahu Zaid. Sayangnya, Rasulullah tidak bisa memenuhi permintaan itu karena Zaid masih terlalu muda untuk ikut berperang.

Bocah itu pulang sambil menyeret pedangnya. Wajahnya murung karena tak mendapat kehormatan menyertai Rasulullah dalam perangnya yang pertama.

Sang ibu, Nuwar binti Malik, menyusul di belakangnya. Tak kurang kesedihannya daripada putranya. Ingin sekali dia melihat putranya berangkat sebagai mujahid bersama kaum lelaki yang lain di bawah panji-panji Rasulullah. Ingin sekali dia menyaksikan putranya mengantikan kedudukan ayahnya yang telah tiada.

Zaid bin Tsabit Sektretais Nabi

Meskipun telah ditolak oleh Rasulullah untuk ikut berjihad di jalan Allah dalam perang Badar karena terhalang usia yang masih muda. Tapi, kecintaan Zaid bin Tsabit yang tinggi terhadap Islam tidak pupus. Dengan kecerdasannya, ia memikirkan hal lain yang mungkin bisa ia lakukan tanpa terhalang usia. Dibantu ibunya, Nuwar binti Malik, ia mengajukan permohonan baru untuk ikut berjuang di jalan Allah.

Sang ibu pergi menghadap Rasulullah menyampaikan kelebihan Zaid yang hafal tujuh belas surah dengan bacaan yang baik dan benar serta mampu membaca dan menulis dengan bahasa Arab dengan tulisan yang indah dan bacaan yang lancar.

Lalu, Rasulullah meminta Zaid mempraktekkan apa yang dikatakan ibunya. Rasulullah kagum, ternyata kemampuan Zai lebih bagus dari yang disampaikan ibunya.

Rasulullah lalu meminta Zaid agar belajar bahasa Ibrani, bahasa orang Yahudi agar mereka tidak mudah menipu Rasulullah.

Sebentar saja, Zaid mampu menguasai bahasa itu. Setiap kali Rasulullah mendapatkan surat atau akan membalas surat kepada orang Yahudi, maka beliau meminta Zaid membantunya.

Rasulullah juga meminta Zaid belajar bahasa Suryani. Ternyata Zaid mampu melakukannya. Di usia yang masih muda, Zaid sudah menjadi orang kepercayaan Rasulullah untuk menjadi sekretaris pribadi beliau. Tidak hanya itu. Karena kemampuannya membaca dan menghafal Al Quran, Rasulullah juga memercayakan Zaid menuliskan wahyu yang turun kepada Rasulullah. Setiap kali wahyu turun, Rasulullah memanggil Zaid, mendiktekan dan meminta Zaid menuliskannya.

Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsabit telah membuatnya diangkat menjadi penulis wahyu dan surat-surat Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka di antara para sahabat lainnya.

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa:

Rasulullah SAW berkata kepadanya “Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani”, kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari.

Peranan Zaid bin Tsabit dalam pemilihan Khalifah setelah Rasulullah Meninggal

Keberadaan Zaid tak terbatas pada posisinya sebagai penulis al-Qur’an. Ia pun menjadi sumber solusi suatu persoalan. Salah satu peranan Zaid bin Tsabit yang sangat besar bagi ummat Islam adalah pada peristiwa pengangkatan Khalifah pengganti Rasulullah.

Posisi Rasulullah sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir mutlak tidak dapat tergantikan, namun posisinya sebagainya sebagai kepala negara harus ada yang menggantikan karena dikhawatirkan akan mendatangkan perpecahan dikalangan ummat Islam.

Maka saat Rasulullah meninggal ummat Islam melakukan musyawarah untuk mengankat khalifah pengganti Rasul. Kaum Muhajirin berkata, “Pihak kami lebih berhak menjadi khalifah.” Sementara kaum Anshar berkata, “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya.” Artinya mereka menginginkan ada dua orang khalifah.

Perbedaan pendapat hampir saja memicu konflik fisik. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring. Di tengah meruncingnya masalah itulah, Zaid muncul dan berkata kepada kaumnya, orang-orang Anshar, “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah saw. adalah orang Muhajirin. Karena itu, sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnyalah pula kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)-nya, sesudah beliau wafat, dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama.” Setelah mengatakan hal itu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, seraya berkata, “Inilah Khalifah kalian. Baiatlah kalian dengannya!” dengan begitu Zaid bin Tsabit telah membai’at Abu Bakar, disusul oleh Umar bin Khattab dan seluruh yang hadir dalam musyawarah itu. Dan diangkatlah Abu Bakar sebagai Khalifah.

Zaid bin Tsabit, pengumpul al-Qur’an

Ketika pecah pertempuran Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak sekali sahabat yang ahli baca (Qary) dan ahli hafal (Huffadz) yang gugur menemui syahidnya. Hal yang cukup mengkhawatirkan ini ‘ditangkap’ oleh Umar bin Khaththab. Segera saja menghadap khalifah Abu Bakar dan mengusulkan agar segera menghimpun Al Qur’an dari catatan-catatan dan hafalan-hafalan para sahabat yang masih hidup. Tetapi Abu Bakar berkata tegas, “Mengapa aku harus melakukan sesuatu yang tidak pernah diperbuat Rasulullah saw. (yakni, bid’ah) ?”
“Demi Allah, ini adalah perbuatan yang baik!!” Kata Umar, agak sedikit memaksa.
Abu Bakar masih dalam keraguan. Ia shalat istikharah, dan kemudian Allah membukakan hatinya untuk menerima usulan Umar. Abu Bakar dan Umar bermusyawarah, dan mereka memutuskan untuk menyerahkan tugas tersebut kepada Zaid bin Tsabit. Ketika Zaid menghadap Abu Bakar dan diberikan tugas tersebut, reaksinya sama seperti Abu Bakar, ia berkata “Mengapa aku harus melakukan sesuatu yang tidak pernah diperbuat Rasulullah SAW (yakni, bid’ah) ?”

Abu Bakar dan Umar menjelaskan tentang keadaan yang terjadi dan bahaya yang mungkin bisa terjadi, dan akhirnya Abu Bakar berkata, “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, dan kami tidak pernah meragukan dirimu. Engkau juga selalu diperintahkan Nabi untuk menuliskan wahyu, maka kumpulkanlah ayat-ayat Qur’an tersebut….”

Zaid bin Tsabit berkata, “Demi Allah, ini adalah pekerjaan yang berat. Seandainya kalian memerintahkan aku untuk memindahkan sebuah gunung, rasanya itu lebih ringan daripada tugas menghimpun al Qur’an yang engkau perintahkan tersebut!!”

Seperti halnya Abu Bakar, akhirnya Zaid bisa diyakinkan akan pentingnya pekerjaan tersebut demi kelangsungan Islam di masa mendatang.

Zaid bin Tsabit sendiri sebenarnya hafal al Qur’an dari awal sampai akhirnya, bahkan Nabi sendiri sering mengecek hafalannya. Namun demikian, ia tidak mau menggunakan hafalannya saja. Ia berjalan menemui para sahabat yang mempunyai catatan dan hafalan, mengumpulkan catatan yang terserak pada kulit, tulang, pelepah kurma, daun dan sebagainya dan juga membandingkannya dengan hafalan para sahabat tersebut. Setelah semua terkumpul dan dicek ulang dengan hafalannya dan juga hafalan para sahabat, Zaid menuliskannya lagi dalam lembaran-lembaran dan menyatukannya dalam satu ikatan. Semuanya disusun menurut urutan surat dan urutan ayat-ayat seperti yang pernah di-imla’-kan (didiktekan) Nabi kepadanya. Itulah mushhaf pertama yang dibuat dalam Islam, dan peran Zaid bin Tsabit sangat besar dalam penyusunannya. Ia menghabiskan waktu hampir satu tahun untuk menyelesaikannya.

Al Qur’an diturunkan dengan tujuh macam bacaan (qiraat sab’ah). Hal ini memang diminta Nabi SAW sendiri untuk kemudahan umat beliau yang karakter lafal dan ucapannya berbeda-beda, sehingga jika telah cocok dengan salah satu bacaan (qiraat) tersebut sudah dianggap benar. Di masa Nabi saw. hidup dan Islam masih di sekitar jazirah Arab, hal itu tidak jadi masalah. Tetapi ketika wilayah Islam makin meluas ke Romawi, Persia dan tempat-tempat lainnya, sementara pemeluk Islam juga makin beragam dari berbagai bangsa, bukan hanya Arab, hal itu bisa menimbulkan perpecahan.

Pada masa khalifah Utsman, di mana Islam sudah mulai menjamah wilayah Eropa, yakni Siprus dan sekitarnya, benih berbahaya ini ditangkap oleh Hudzaifah bin Yaman dan beberapa sahabat lainnya. Karena itu mereka menghadap khalifah Utsman menyampaikan usulan untuk menyatukan mush’af dalam satu bacaan/qiraat saja, dan menyebar-luaskannya sebagai pedoman bagi masyarakat Islam yang makin meluas saja. Untuk qiraat sab’ah (bacaan yang tujuh), biarlah hanya diketahui para ulama dan ahlinya saja.

Khalifah Utsman tidak serta-merta menerima usulan tersebut karena takut terjatuh dalam bid’ah, sebagaimana yang dikhawatirkan Abu Bakar. Tetapi setelah melakukan istikharah dan mempertimbangkan persatuan umat, serta madharat dan manfaat dari adanya Qiraat Sab’ah, akhirnya ia menyetujui usulan ini. Dan seperti halnya Abu Bakar, khalifah Utsman menugaskan Zaid bin Tsabit untuk memimpin proyek besar ini, sehingga tersusun kodifikasi Mush’af Utsmani, yang menjadi cikal bakal dari hampir seluruh Mush’af al-Qur’an yang sekarang beredar di antara kita. Sungguh kita semua berhutang jasa kepada Zaid bin Tsabit.

Zaid bin Tsabit Sang Ulama Besar

Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan sahabat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,” Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”. Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam an-Nasa’I dan Ibnu Majah, dimana Nabi bersabda,” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”.

Zaid bin Tsabit telah meriwayatkan sembilan puluh dua hadist, yang lima daripadanya disepakati bersama oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim. Bukhari juga meriwayatkan empat hadist yang lainnya bersumberkan dari Zaid bin Tsabit, sementara Muslim meriwayatkan satu hadist lainnya yang bersumberkan dari Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang fiqih, fatwa dan faraidh (waris).

Karena kedalaman pengetahuannya akan al-Quran, Zaid bin Tsabit diangkat menjadi penasehat umat Islam di masanya. Ia menjadi tempat bertannya bila ada masalah yang terkait dengan hukum Islam, terutama masalah warisan. Di masa itu, hanya Zaid bin Tsabit yang mahir membagi warisan sesuai aturan Islam.

Karena kemampuan itu, saat Umar bin Khatab menadji khalifah, Umar pernah berfatwa, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Al Quran, datanglah kepada Zaid bin Tsabit…”

Meski sudah menjadi ulama besar, namun Zaid bin Tsabit tetap zuhud dan tawadhu. Suatu hari, saat ia sedang mengendarai seekor hewan, ia kesulitan mengendalikan hewan itu. Saat itu, Ibnu Abbas melintas di depannya. Ia membantu Zaid bin Tsabit mengendalikan hewannya.

Lalu Zaid berkata, “Biarkan saja hewan itu, wahai anak paman Rasulullah,” katanya.

Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan oleh Rasulullah menghormati ulama kami,”

Lalu Zaid menjawab,”Kalau begitu, berikan tanganmu padaku.”

Ibnu Abbas memberikan tangannya. Zaid menciumnya dan berkata, “Begitulah cara kami diperintahkan Rasulullah untuk menghormati keluarga nabi kami.”

Mengenai kedalaman ilmunya, Ibnu Abbas berkata, “Sebagaimana diketahui bahwa para penghafal al-Quran dari kalangan sahabat dan Zaid bin Tsabit, termasuk orang-orang luas ilmunya.”

Zaid bin Tsabit Sebagai Pejabat

Zaid bin Tsabit tidak hanya sebagai seorang Ulama, pengumpul al-Qur’an, sekretaris Nabi, ia juga pernah diangkat menjadi bendahara pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Ketika pemerintahan Khalifah Utsman, Zaid bin Tsabit diangkat menjadi pengurus Baitul Maal. Umar dan Utsman juga mengangkat Zaid bin Tsabit sebagai pemegang jabatan khalifah sementara ketika mereka menunaikan ibadah haji.

Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir (gubernur) Madinah sebanyak tiga kali di ibukota atau di wilayah pusat kekuasaan, dan dia juga ditugaskan untuk mengumpulkan al-Quran atas perintah Abu Bakar dan Umar.

Wafat

Ia wafat di Madinah pada tahun 45 H dalam usia 56 tahun (dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau 52 H).
Kebesaran nama Zaid bin Tsabit dan kedalaman ilmu yang dimilikinya, menjadi suatu kehilangan besar ketika tiba waktunya ia pergi menghadap Illahi. Kaum muslimin bersedih karena mereka kehilangan seseorang yang dihatinya bersarang ilmu al-Quran. Bahkan Abu Hurairah mengungkapkannya sebagai kepergian Samudera Ilmu.

“Hari ini orang yang paling alim di antara umat Islam telah wafat. Semoga Allah memberikan ganti dari keluarga Ibnu Abbas.”

Belia meninggalkan seorang anak bernama Khorijah bin Zaid, salah seorang ahli fiqih tujuh yang terkenal di Madinah. Anaknya termasuk dari golongan tabi’in yang sangat berpengaruh.

Tinggalkan komentar