Kisah Sahabat Nabi Uqbah bin Amir Al-Juhani

Kisah Sahabat Nabi Uqbah bin Amir Al-Juhani – Begitu arak-arakan mengiringi Rasulullah SAW yang berjalan perlahan-lahan di antara barisan masyarakat Madinah. Hati mereka diselimuti kebahagiaan karena bisa melihat manusia suci.

Namun sayang, iring-iringan kebahagiaan menyambut kedatangan Rasulullah di Madinah itu terlewatkan oleh sosok penggembala bernama Uqbah bin Amir Al-Juhani. Ia tak bisa datang bersama yang lain karena sedang sibuk menggembala domba di gurun pasir. Hanya domba itu harta miliknya. Dia khawatir domba-domba itu akan mati kehausan dan kelaparan jika dibiarkan.

Karena cerita dari mulut kemulut atas kedatangan Rasulullah ini mengharu biru, Uqbah tak tahan untuk melihat sang Nabi. Uqbah pun meninggalkan domba-dombanya, dan berangkat menemui Rasulullah SAW. Saat berada di depan Nabi, Uqbah berkata, “Berkenankah Tuan membaiat saya, ya Rasulullah?”

“Siapakah engkau?” tanya beliau.

“Saya Uqbah bin Amir Al-Juhani.”

“Baiat bagaimana yang kau kehendaki. Baiat Arabi atau baiat hijrah?” tanya Rasulullah.

“Seperti yang Tuan lakukan terhadap penduduk Madinah, ” jawab Uqbah.

Lalu Rasulullah membaiatnya seperti kaum Muhajirin. Ia bermalam di tempat Rasulullah dan baru kesesokan harinya kembali menggembalakan domba.

Uqbah tidak sendiri ketika masuk Islam. Ia bersama dua belas temannya telah masuk Islam. Mereka bermukim jauh dari keramaian Kota Madinah, menggembalakan domba di gurun-gurun dan lembah.

Suatu hari, Uqbah pun mendiskusikan keberadaannya yang jauh dari Madinah. Ia merasa tak bisa banyak belajar agama, sementara domba-dombanya membutuhkan perawatannya. Akhirnya bersama teman-temannya sepakat untuk mengutus satu orang belajar ke Madinah, sedang yang lain tetap menggembala.

Secara bergantian mereka menemui Rasulullah dan mengajarkan apa yang didapat kepada teman-teman mereka yang bertugas menggembalakan domba, kecuali Uqbah. Ia bersedia untuk tidak menemui Rasulullah karena harus menjaga gembalanya.

Lama kelamaan Uqbah merasa rugi, karena tidak bisa berdampingan dengan Rasulullah, menyimak pengajaran langsung dari beliau tanpa perantara. Lalu ia meninggalkan domba-domba tersebut, dan berangkat ke Madinah, untuk tinggal dan menetap di masjid, di samping Rasulullah SAW.

Ketika mengambil keputusan yang menentukan itu, tidak pernah terlintas dalam pikiran Uqbah, bahwa pada suatu waktu dia akan menjadi seorang alim besar di antara para sahabat yang ulama besar. Dia akan menjadi qari (ahli baca Al-Quran) di antara para qari terkemuka lainnya.

Dia tidak pernah menyangka kelak ia menjadi tentara yang bakal membebaskan Damaskus (Syria). Ia juga tak pernah membayangkan akan menjadi panglima perang yang menaklukkan Mesir, dan menjadi penguasa negeri itu.

Uqbah langsung berguru kepada Rasulullah SAW. Sehingga dia berhasil menjadi qari yang fasih, hafal dan faham makna Al-Quran. Ia menjadi ahli hadits fiqih, dan faraidh (ilmu warits). Ia juga merupakan seorang penyair dan pujangga.

Di bidang jihad, Uqbah ikut dalam Perang Uhud dan peperangan lainnya. Dalam perang menaklukkan Damaskus dan Mesir, Uqbah diangkat menjadi perwira dalam ketentaraan kaum Muslim. Saat pucuk pimpinan kaum Muslimin dipegang oleh Muawiyah bin Abu Syfyan, Uqbah diangkat menjadi menjadi gubernur di Mesir.

Setelah memegang jabatan selama tiga tahun, Muawiyah menugaskannya ikut dalam peperangan menaklukkan Rodhes di Laut Tengah. Uqbah merupakan seorang pemanah jitu.

Beliau wafat pada tahun ke 63-H pada peperangan di tanah Zab di daerah Maghrib (Maroko). Dan dikuburkan didaerah itu juga bersama pasukan-pasukanya yang syahid lainya. Dan disana akan ditemukan masjid yang bernama Masjid Uqbah. Ada sebuah do’a yang menggugah yang ia ucapkan setelah memberikan wasiat kepada putra-putranya. “ Ya Allah terimalah diriku ini dalam KeriadhaanMu, dan jadikanlah jihad sebuah kasih sayangku dan rumah kemulianku disisi-Mu”.

Tinggalkan komentar