Biografi dan Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib, Sang Singa Allah SWT

Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib – Nama sebenarnya Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, seorang paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian, Ia Ikut Hijrah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan ikut dalam perang Badar, dan meninggal pada saat perang Uhud, Rasulullah menjulukinya dengan “Asadullah” (Singa Allah) dan menamainya sebagai “Sayidus Syuhada”.

Usia Hamzah lebih tua 2 tahun dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Hamzah tinggal di lingkungan keluarga Abdul Muthalib bersamaan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Karena sejak kecil nabi sudah diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Lalu setelah dia meninggal hak asuhnya diberikan kepada pamannya yang bernama Abu Thalib. Sedangkan Abu Thalib adalah kakak kandungnya Hamzah.

Maka tak heran jika sejak kecil Hamzah selalu bermain dengan Rasulullah di sekitar ka’bah. Bahkan Hamzah juga mempunyai kebiasaan memanah, menombak dan bermain pedang. Hingga penduduk Makkah tahu akan kepandaian Hamzah dalam hal memanah, bergulat dan menombak.

Akhirnya paman nabi ini tumbuh besar menjadi pemuda yang mahir dalam menggunakan panah, tombak dan pedang. Di sisi lain Hamzah sangat menyukai berburu binatang. Tentu atas keahliannya dalam memanah dan menombak, ia selalu membawa pulang hasil buruannya tersebut.

Setiap kali pulang dari berburu dia selalu berjalan dengan penuh gagah berani sambil mengalungkan tombak dan panahnya di atas pundaknya. Sebelum pulang, dia melewati ka’bah dan selalu melakukan thawaf disana. (thawafnya bukan untuk Allah semata, sebab beliau belum masuk Islam)

Sifat dan Kedudukan Hamzah bagi Penduduk Makkah

Tidak dipungkiri bahwa Hamzah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, ditambah lagi dia berasal dari keturunan yang tinggi serta seluruh penduduk Makkah sudah mengetahui hal itu. Maka dengan keadaan seperti itu tidak ada seorangpun yang berani melawannya.

Namun dibalik itu semua, ternyata Hamzah bin Abdul Muththalib memiliki sifat dan akhlak yang sangat mulia, sampai-sampai banyak penduduk Makkah yang memujinya. Ia dikenal sebagai seorang pemuda yang dermawan, suka membantu dan menolong, terlebih lagi kepada kaum fakir miskin.

Hamzah juga terkenal suka bersilaturrahmi dengan keluarga dan teman. Jika berbicara tutur katanya sopan, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang muda. Itulah karakter dan sifat yang dimiliknya. Meskipun hidayah Islam belum menghampirinya dia tetap tumbuh dalam kemuliaan. Subhanallah

Kisah Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib

Inilah kisah yang paling banyak dikenal oleh masyarakat Islam khususnya di Indonesia, sudah banyak sekali para pendidik yang menceritakan kisah ini. Bagaimana kisah Hamzah masuk Islam? Apa sebab dia masuk Islam?

Sebenarnya saat awal-awal Rasulullah mendakwahkan Islam di Makkah, Hamzah tidak begitu memperhatikan ajakan beliau (cuek alias acuh). Cobaan dan cacian penduduk Makkah terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wassalam juga tidak dipedulikannya.

Hingga suatu hari ketika Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berada di bukit Shafa yang sedang diserang, dicaci maki dan dihina Abu Jahal di hadapan orang banyak. Tiba-tiba ada seorang budak milik Abdullah bin Jad’an yang mendengar dan melihat apa yang dilakukan Abu Jahal tersebut kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

Setelah melihat kejadian itu, budak tersebut pun pergi meninggalkan bukit Shafa. Dia berjalan menuju Ka’bah. Dan di hari itu si budak bertepatan dengan Hamzah yang sedang berburu binatang seperti biasanya.

Setelah pulang dari berburu, Hamzah melakukan thawaf di ka’bah, lalu budak tersebut menemui Hamzah dan menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya. Budak itu berkata, “Wahai Hamzah, andai engkau mendengar seperti yang aku dengar ucapan Abu Jahal terhadap ponakanmu (Muhammad). Andai engkau melihat penyerangan yang ia lakukan terhadap ponakanmu, sungguh engkau akan melakukan sesuatu.”

Kali ini ucapan budak itu benar-benar membuat Hamzah terdiam. Hamzah mendengarkan cerita budak tersebut, dia terkejut bercampur marah atas perbuatan Abu Jahal terhadap ponakannya. Padahal selama ini dia cuek-cuek saja.

Tapi tidak untuk yang satu ini, sahabat Hamzah benar benar marah besar, tidak berpikir panjang lagi, dia langsung bergegas menuju bukit Shafa dengan wajah memerah, penuh dengan kemarahan, sambil membawa panah dan tombaknya. Di bukit Shafa, dia langsung menghampiri Abu Jahal. Tidak ada kata kata yang terucap dari Hamzah, dia langsung memukul Abu Jahal dengan busur panahnya hingga kepalanya bercucuran darah.

Setelah memukul Abu Jahal dengan keras, Hamzah berkata, “Apakah kamu mencaci makinya sedangkan aku memeluk agamanya (Islam). Aku mengucapkan seperti yang ia ucapkan (Rasulullah). Halangi aku jika kalian mampu.”

Hamzah akan membela Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dengan kekuatan dan keberaniannya. Bahkan dia telah mengumumkan keislamannya di hadapan semua orang. Ini adalah kejadian yang sangat luar biasa.

Apa yang dilakukan Abu Jahal terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wassalam itu mendatangkan keberkahan besar bagi umat Islam. Kejadian itu menjadikan Hamzah masuk Islam. Dia langsung menyatakan keislamannya di hadapan orang banyak.

Setelah itu, Hamzah bergegas menemui Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Di hadapan beliau, Hamzah mengucapkan syahadat dan nabi sangat bahagia, pamannya masuk Islam sedangkan ia orang yang ditakuti musuh. Allah menjadikan Islam ini jaya dengan masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kapan Hamzah masuk Islam?

Menurut pendapat mayoritas ahli sejarah, paman Rasulullah Hamzah masuk Islam pada bulan Dzul Hijjah tahun ke 6 dari kenabian shalallahu alaihi wassalam.

Kisah Keberanian Hamzah bin Abdul Muthalib

Setelah Hamzah masuk Islam, ia berkeliling ke kota Makkah untuk memberitahukan keislamannya itu kepada setiap orang yang ditemuinya di jalan. Tidak ketinggalan tokoh tokoh musyrik Makkah juga didatangi dan diberi tahu akan keIslamannya. Akhirnya berita keislaman Hamzah tersebar ke seluruh penduduk Makkah. Mereka orang orang musyrik yang selama ini mengganggu para sahabat harus berhati hati setelah Hamzah masuk Islam.

Masyaallah, keislaman Hamzah benar-benar memberi efek besar bagi kaum muslimin khususnya yang tidak memiliki perlindungan, seperti para budak, mantan budak atau orang lemah lainnya yang sudah masuk Islam.

Kisah Hamzah Hijrah ke Madinah

Setelah Hamzah masuk Islam, dakwah Rasulullah di Makkah semakin tersebar. Tetapi orang orang musyrik tentu tidak tinggal diam. Mereka tetap memusuhi Islam, menghina dan mencaci Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, bahkan malah menyiksa sebagian sahabat beliau.

Hingga Allah mengizinkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah demi mendapatkan ketenangan, berkumpul dengan para sahabat anshar (penduduk Madinah) dan dapat menyebarkan Islam dengan leluasa ke seluruh wilayah Arab.

Para sahabat yang di Makkah pun bergegas menuju Madinah. Hamzah dan beberapa lelaki lainnya menjadi sahabat pertama yang meninggalkan Makkah.

Hamzah meninggalkan Makkah tidak dengan sembunyi sembunyi seperti yang dilakukan sahabat lainnya supaya tidak diketahui orang orang musyrik. Namun Hamzah meninggalkan Makkah dengan keberanian yang tinggi, ia melewati sekumpulan tokoh Quraisy yang duduk duduk di Ka’bah, menantang mereka jika ada yang berani menghalanginya. Sungguh besar keberanian Hamzah bin Abdul Muththalib.

Kisah Hamzah di Perang Badar

Pada tahun ke 2 H, orang orang musyrik Makkah mengumpulkan pasukan yang berjumlah 1000 orang untuk menyerang Madinah, sementara dipihak islam hanya berjumlah 313 orang saja. Rasulullah pun mendapatkan izin dari Allah untuk berjihad. Terjadilah pertempuran di daerah Badar pada bulan Ramadhan. Pertempuran ini disebut dengan perang Badar. Pada perang ini keberanian dan kehebatan Hamzah benar benar terlihat dan membuat kaum musyrik ketakutan berhadapan dengannya.

Kedua pasukan tersebut berperang dengan sengit. Tiba tiba seorang musyrik bernama Aswad bin Abdul Asad maju dan berkata, “Saya bersumpah, sungguh saya akan minum dari telaga yang dikuasai Islam itu.”

Diapun maju ke depan, Hamzah langsung menghadangnya dan menebaskan pedangnya ke kaki Aswad hingga putus. Aswad dengan berlumuran darah, merangkak ke arah telaga, Hamzah pun membunuhnya.

Tentara musyrik melihat salah satu temannya mati, maka tiga orang tokoh dari mereka maju ke depan pertempuran. Mereka adalah Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah. Mereka mengajak pasukan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berduel. Rasulullah menerima tantangan mereka.

Beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk melawan Walid bin Utbah. Hamzah melawan Syaibah bin Rabiah dan Ubaidah bin Harits melawan Utbah bin Rabiah. Tidak butuh waktu lama, Hamzah dengan mudah membunuh lawannya. Begitu juga Ali dan Ubaidah berhasil membunuh lawannya.

Pertempuran itu berlangsung dengan keras. Hamzah meletakkan bulu berwarna merah dari burung unta di dadanya, agar pasukan kafir tahu bahwa ia adalah Hamzah. Hamzah bertempur ibarat singa padang pasir yang lapar. Pedangnya diayun ayunkan ke kanan dan ke kiri. Banyak pasukan kafir terbunuh dengan tangannya.

Perang Badar pun berakhir dengan kemenangan diraih kaum muslimin. Banyak dari pasukan kafir yang mati termasuk tokoh tokoh mereka. Berita kekalahan itu terdengar oleh penduduk Makkah. Mereka marah besar dan akan membalas dendam.

Kisah Hamzah Si Singa Allah di Perang Uhud

Setelah kalah, Abu Sufyan mengumpulkan pasukan yang jauh lebih besar untuk membalas dendam kekalahan itu dan membalas kematian tokoh tokoh mereka. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mendengar rencana mereka, beliau pun juga mengumpulkan pasukan.

Orang orang kafir itu benar benar dendam terhadap Hamzah yang telah membunuh tokoh tokoh kaum kafir di Badar. Mereka menyewa seorang budak yang pandai melempar tombak untuk menyelinap dalam pertempuran itu dan membunuh Hamzah dari jauh. Budak itu bernama Wahsyi bin Harb. Mereka menjanjikannya hadiah besar jika berhasil membunuh Hamzah.

Pertempuran kali ini bernama perang Uhud, terjadi pada tahun ke 3 H. Perang Uhud pun berlangsung dengan keras. Di tengah pertempuran terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Berita inilah yang membuat sebagian sahabat mundur dari peperangan dan kehilangan semangat. Tetapi Hamzah berbeda, dia berkata, “Saya adalah singa Allah dalam medan pertempuran, saya singa Allah.”

Kisah Wafatnya Hamzah bin Abdul Muthalib

Hamzah terus maju berperang tanpa mempedulikan berita tersebut. Di tengah tengah Hamzah yang sedang banyak membunuh kaum kafir dimana dalam perang uhud Hamzah berperang laksana singa padang pasir yang sedang mengamuk, setiap musuh yang di temui nya berlinang darah dari tebasan pedang hamzah sang singa Allah beliau mengobrak abrik pasukan musuh dan tak dapat di hadang oleh siapa pun.

Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, sampai akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rasulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk mengambil harta rampasan yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.

Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh Islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari pada bukit tersebut. Tentunya penyerangan yang mendadak ini membuat pasukan Islam terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy.

Wahsyi melihatnya dari kejauhan lalu mencari posisi yang tepat. Setelah itu Wahsyi pun melempar tombaknya ke arah Hamzah. Lemparannya mengenai tubuh Hamzah dan ia pun terjatuh. Hamzah sang pemberani gugur sebagai syahid.

Berita terbunuhnya Hamzah tersiar di kalangan musuh. Istri Abu Sufyan bergegas mencari tubuh Hamzah, diapun mendapatkannya dan merasa senang karena dendamnya terbalaskan.

Perang Uhud pun berakhir. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkeliling ke daerah pertempuran untuk melihat siapa saja yang gugur sebagai syahid. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melihat tubuh Hamzah yang terbunuh. Air mata beliau mengalir membasahi pipinya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menangis, karena wafatnya paman yang beliau cintai.

Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin men-shalat-kan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu per satu. Pertama Sayyidina Hamzah di-shalat-kan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk di-shalat-kan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya di situ. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya men-shalat-kan mayat itu. Demikianlah Rasulullah men-shalat-kan para syuhada Uhud satu persatu, sampai jika di hitung Maka Rasulullah dan para sahabat telah men-shalat-kan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.

Kaum muslimin di Madinah mendengar berita wafatnya Hamzah, mereka semua juga menangis bersedih. Hari itu kota Madinah dipenuhi dengan kesedihan mendalam atas terbunuhnya sang pemberani, paman Rasulullah yang tercinta. Semoga Allah meridhai Hamzah bin Abdul Muththalib.

Itulah biografi, cerita dan sejarah tentang riwayat hidup Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib sang singa ALLAH SWT. Semoga kisah diatas bisa menginspirasi kita semuanya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan komentar